Cegah Corona

Stay at Home, Pakai Masker, Jaga Jarak, Cuci Tangan Selalu

My Blog List

Adsense Blog VS YouTube Adesense, Which Is More Profitable

Talking about adsense is certainly endless. Because that's where a blog and YouTube can survive and exist increasingly.

Through adsense, a blogger or a YouTuber will continue to improve their quality in order to catch up with traffic.

However, pursuing the two adsense above is not easy, like turning your palms.

It takes a struggle regarding time, effort, and consistency. Therefore, many tend to choose just one thing.

Sometimes it makes adsense the main income, some are only side jobs, some are even entertainment.

Now, let's look at the advantages.

Getting adsense blog in my opinion, is easier than getting adsense from YouTube. Indeed, it cannot be generalized, it's just that for beginners in the world of content, blogging is easier than YouTube.

However, here are some of the difficulties faced by both of them.

Let's see in full.

To get adsense on a blog, you need to have the following specifications:

First, have good writing skills. Having quality writing on a blog is mandatory. Your posts don't have to appear every day, but just once a week with good quality, you will get increased traffic. Even if it is too often, it will actually decrease.

Unlike blogs that contain news or information, frequent uploads will increase traffic.

Second, SEO techniques

In creating a blog, you must have SEO knowledge. SEO science is very diverse and many. Starting from content content, layout, marketing, to programming. Well, this is where the obstacle to beginner bloggers is.

Although, there are minimal SEO techniques that can at least be mastered. Gradually, it will increase over time.

Third, programming language.

Being a thumbs-up blogger, you should master HTML or javascript. The exception is if the website and SEO use the services of other people.

Such as placing appropriate advertisements, combining views, how to make the website have the speed to display writing, etc. is one of the implications of mastering programming languages ​​and becomes a minus value if someone does not have a programming language.

Fourth, be consistent.

This fourth one must be done by a blogger. Consistent writing must be a determination. Many blogs are great, but unfortunately the authors are inconsistent. Until finally the traffic decreased.

Even though writing quality is not an easy thing.

On the other hand, when you want to become a YouTuber, you must have the following things;

First, the ability to edit content

Remember, youtube is synonymous with a dynamic display, while blogger is more about content. So that the ability to compile various videos into one, provide space for improvisation, and the ability to provide writing in accordance with the recorder speech are forms that are not easy.

Second, visual communication design skills

It's clear that visuals are No.1 on youtube. Even though the content is weightless, if it is packaged attractively, of course it has a plus. The combination of colors and uniforms with the theme of the writing also affects, and there are many more that are being paid attention to.

Third, it took a long time

Of course creating a YouTube content takes a long time to present. He didn't just make it. Moreover, getting people to subscribe is more demanding.

Thus, uploading a post or video display on YouTube requires different capabilities. This of course sets everyone apart.

It is very possible that someone prefers to upload YouTube rather than get views on the posts on their blogger or vice versa.

What if it goes viral?

A viral YouTube upload has a huge advantage in adsense compared to writing on a blog. Posts on blogs that are viral are as rare as YouTube content. Viral writing is easier to obtain from the Facebook network than blogs.

Tendency to neutralize?

Other people tend to neutralize YouTube content compared to posts on blogs. Because viralizing YouTube content can be felt more satisfying than sharing other people's writings in the form of a blog. Moreover, in terms of writing, people prefer writing in the form of domains such as quora or medium.

Low literacy culture, what are the implications?

Very clearly meaning. A low literacy culture allows people to prefer to see a dynamic display rather than a number of stagnant writing.

Our society's low literacy makes it preferable to watch YouTube shows rather than reading writing.

Based on the explanation above, it can be our reference, preferring YouTube or blog adsense.

Relasi, Pengenalan dan Penyajian Relasi


1.       Pengertian Relasi

Relasi dari dua himpunan A dan B adalah hubungan antara dua himpunan A dan B, yang memasangkan anggota-anggota A dengan anggota-anggota B.

Contoh 1:

Diketahui dua himpunan P = {Thailand, Malaysia, Filipina, Brunei, Indonesia} dan Q = {Manila, Bandar Sri Begawan, Jakarta, Kualalumpur, Bangkok}. Antara himpunan P dan Q terdapat suatu hubungan, yaitu negara dengan ibu kotanya. Thailand beribukota di Bangkok, Malaysia beribukota di Kualalumpur, Filipina beribukota di Manila, Brunei beribukota di Bandar Sri Begawan dan Indonesia beribukota di Jakarta. Jadi relasi dari himpunan P ke himpunan Q adalah “P beribukota Q” atau  “beribukota di”.

Latihan 1

1.       Dari hasil wawancara terhadap empat orang siswa yaitu Ani, Ela, Siti dan Mila, diketahui bahwa:

-        Ani dan Ela senang minum teh.

-        Ani dan Siti senang minum susu.

-        Ani , Siti dan Mila senang minum kopi.

a.       Siapakah yang senang minum susu dan kopi?

b.       Siapakah yang senang minum teh dan susu?

c.       Siapakah siswa yang menyenangi satu jenis minuman saja?

2.       Ali dan Badu anak rajin. Dodi dan Badu kedua-duanya pandai sedangkan Ali dan Dodi anak-anak yang jujur.

a.       Siapakah yang rajin dan jujur?

b.       Adakah anak yang rajin dan pandai?

c.       Adakah anak yang jujur, rajin dan pandai?

3.       Pak Amir menerangkan bahwa Kandi ayah Mirna, Maman ayah Ali dan Parman ayah Irma. Jika A himpunan ayah dan B himpunan anak, tulislah A dan B!

4.       Tiga orang siswa ditanya kegemarannya, ternyata A gemar sepak bola, B gemar sepak bola dan tennis meja sedangkan C gemar bulu tangkis dan sepak bola.

a.       Tuliskan himpunan anak dan himpunan kegemaran.

b.       Berapa orang yang senang sepak bola?

5.       Jika diketahui himpunan A = {1, 4, 9, 16} dipasangkan dengan himpunan B dengan menggunakan relasi “pangkat dua dari”. Tentukan himpunan B.


2.       Menyatakan Relasi dengan Diagram Panah, Cartesius dan Himpunan Pasangan Berurutan

a.       Diagram Panah

Contoh 2

Jika A = {1, 2, 3} dan B = {1, 2, 6}, gambarlah diagram panah yang menyatakan relasi dari A ke B dengan hubungan: “lebih dari” dan “faktor dari”.


relasi dan fungsi

b.       Diagram Cartesius

Dari dua himpunan P dan Q diketahui bahwa:

P = {Veni, Wulan, Intan, Sari}

Q = {susu, soda, teh, air putih, kopi}.


Relasi dari dua himpunan tersebut, yang menunjukkan “gemar minum”, selain dapat dinyatakan dengan diagram panah, juga dapat ditunjukkan dengan diagram Cartesius pada gambar 3. Noktah-noktah (titik-titik tebal) pada diagram Cartesius tersebut, menyatakan hubungan kegemaran masing-masing anak itu.

Diagram Cartesius Relasi

c.       Himpunan Pasangan Berurutan

Misalkan diketahui himpunan A = {Bandung, Semarang, Surabaya} dan B = {Jabar, Jateng, Jatim}, sedangkan relasi dari A ke B adalah “ibukota” maka Bandung→Jabar dapat ditulis (Bandung, Jabar). Urutan penulisan tidak boleh dibalik misalnya (Jabar, Bandung) sebab tidak sesuai dengan pernyataan relasinya. (Bandung, Jabar), (Semarang, Jateng), (Surabaya, Jatim) disebut pasangan berurutan relasi “ibukota” dari A ke B.

Contoh 3                                                             

Jika A = {1, 2, 3} dan B = {0, 1, 2, 4}

a.       gambarkan diagram panah yang menyatakan relasi dari A ke B dengan hubungan “kurang dari”!

b.       tuliskan himpunan pasangan berurutannya!


a.       Gambar diagram panahnya

Diagram Panah


b.   Himpunan pasangan berurutannya adalah:

      {(1, 2), (1, 4), (2, 4), (3, 4)}.

Latihan 2

1.       Diketahui: A = {0, 1, 2, 3, 4} dan B = {0, 2, 4, 6, 8}.

  1. Jika x Î A dan y Î B, tentukan  himpunan pasangan berurutan yang menyatakan relasi x setengah y.
  2. Gambarkan dengan diagram Cartesius relasi tersebut.

2.       Diketahui: P = {3, 5, 6, 8} dan Q = {2, 9, 10, 12, 16}.

a.       Tunjukkan dengan diagram panah relasi “faktor dari” dari P ke Q.

b.       Tunjukkan dengan diagram Caresius hubungan tersebut.

c.       Nyatakan hubungan tersebut dengan himpunan pasangan berurutan.

3.       Nyatakan hubungan yang mungkin dari himpunan pasangan berurutan berikut ini:

  1. {(1, 2), (2, 4), (3, 6), (4, 8), (5, 10)} 
  2. {(1, 2), (2, 3), (3, 4), (4, 5), (5, 6)}
  3. {(1, 2), (2, 4), (3, 9), (4, 16), (5, 25)}          
  4. {(0, 0), (1, 1), (4, 2), (9, 3), (16, 4), (5, 25)}
  5. {(0, 0), (4, 2), (10, 5), (12, 6), (20, 10)}

4.       Suatu relasi dinyatakan dengan himpunan  pasangan berurutan:

{(–4, –3), (–3, –2), (–2, –1), (–1, 0), (0, 1), (1, 2)}.

a.       Gambarkan diagram panah relasi itu!

b.       Gambarkan pula diagram Cartesiusnya!

c.       Menyatakan relasi apakah pasangan berurutan tersebut?

Download Juknis Desain Pengembangan AKM (Asesmen Kompetensi Minimum)

Latar Belakang Desain Pengembangan Soal AKM (Asesmen Kompetensi Minimum)

Latar Belakang

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional Bab XVI pasal 57 sampai dengan 59 tentang evaluasi menyatakan bahwa dalam

rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai

bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang


Lebih lanjut, Undang-Undang ini menyatakan bahwa evaluasi

dilakukan oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan

sistematis untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan. 

Kegiatan evaluasi tersebut dapat dilaksanakan secara baik bila evaluasi/penilaian dilakukan secara

profesional dan melembaga. Evaluasi pendidikan dilaksanakan oleh guru, sekolah, dan

pemerintah. Hingga tahun 2019, pemerintah melakukan penilaian pendidikan secara

nasional melalui Ujian Nasional di akhir jenjang.

Pendidikan pada abad ke-21 harus dapat menjamin agar peserta didik memiliki

keterampilan belajar dan berinovasi, keterampilan menggunakan dan memanfaatkan

teknologi dan media informasi, dapat bekerja dan bertahan dengan menggunakan

kecakapan hidup (life skill). 

Kecakapan hidup itulah yang kemudian dikenal dengan konsep kecakapan abad ke-21. Sejumlah 

organisasi dan institusi telah berupaya merumuskan dan menjelaskan kompetensi dan kecakapan yang 

diperlukan dalam menghadapi kehidupan abad ke-21. US-based Partnership for 21st Century Skills 

(P21) mengidentifikasi kompetensi yang diperlukan di abad ke-21 adalah “The

4Cs: communication, collaboration, critical thinking, and creativity”. Kecakapan abad

ke-21 dikembangkan melalui: (1) kecakapan berpikir kritis dan pemecahan

masalah (critical thinking and problem solving skill), (2) kecakapan berkomunikasi

(communication skills), (3) kecakapan kreativitas dan inovasi (creativity and

innovation), dan (4) kecakapan kolaborasi (collaboration).

Salah satu prasyarat untuk mewujudkan kecakapan hidup abad ke-21 tersebut adalah

kemampuan literasi peserta didik. National Institut for Literacy menjelaskan bahwa

yang dimaksud dengan literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis,

berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang

diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, masyarakat. World Economic Forum (2015)

menetapkan enam literasi dasar, yaitu (a) literasi baca tulis, (b) literasi numerasi, (c)

literasi sains, (d) literasi digital, (e) literasi finansial, dan (f) literasi budaya dan


Pengembangan dan penguatan karakter serta kegiatan literasi menjadi salah satu unsur

penting dalam kemajuan sebuah negara dalam menjalani kehidupan di era globalisasi.

Oleh karena itu, untuk meningkatan kualitas hidup, daya saing, pengembangan karakter

bangsa, serta melihat perkembangan keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan di

abad ke-21, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun

2016 menyelenggarakan berbagai kegiatan literasi melalui Gerakan Literasi Nasional

sebagai bagian dari implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor

23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. 

Tujuan umum Gerakan Literasi

Nasional adalah untuk menumbuhkembangkan budaya literasi pada ekosistem

pendidikan mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam rangka pembelajaran

sepanjang hayat sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup.

Dalam rangka menyiapkan peserta didik yang memiliki kecakapan abad ke-21,

pemerintah akan melakukan asesmen kemampuan minimum (AKM) pada tahun 2021

yang meliputi asesmen pada literasi membaca dan numerasi, yaitu asesmen pada

kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi membaca) dan asesmen

kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi). 

Literasi membaca bukan

hanya sekadar kemampuan membaca secara harfiah tanpa mengetahui isi/makna dari

bacaan tersebut, melainkan kemampuan memahami konsep bacaan. 

Sementara itu,

numerasi bukan hanya sekadar kemampuan menghitung, melainkan kemampuan

mengaplikasikan konsep hitungan di dalam suatu konteks, baik abstrak maupun nyata.

AKM dapat menghasilkan peta kecakapan tentang literasi membaca dan numerasi

peserta didik pada kelas 5, 8, dan 11 yang dapat digunakan untuk memperbaiki proses

pembelajaran di satuan pendidikan. 

Oleh karena itu, soal-soal yang dikembangkan untuk AKM bersifat kontekstual, berbagai bentuk soal, 

mengukur kompetensi pemecahan masalah, dan merangsang peserta didik untuk berpikir kritis. 

Penilaian dalam AKM mengacu pada tolok ukur yang termuat dalam Programme for International

Student Assessment (PISA) dan Trends in International Mathematics and Science Study

(TIMSS). Soal-soal AKM akan membuat peserta didik melahirkan daya analisis

berdasarkan suatu informasi, bukan membuat peserta didik menghapal/mengingatingat


Pengembangan soal-soal AKM dilakukan melalui kegiatan: penyusunan desain,

penyusunan dan analisis framework, penyusunan stimulus, penugasan penulisan soal,

penulisan soal, penelaahan dan perbaikan soal, perakitan soal/bahan uji coba, validasi

soal, uji coba soal, penskoran dan analisis soal, interpretasi hasil analisis,seleksi soal,

penyusunan spesifikasi tes, pemilihan soal, pemaketan soal, proofreading, fiat, dan

pemanfaatan tes/soal. 

Kegiatan penyusunan desain hingga seleksi soal merupakan

kegiatan pengembangan soal, sedangkan kegiatan penyusunan spesifikasi tes hingga

pemanfaatan tes merupakan kegiatan penyiapan bahan AKM. Secara garis besar

pengembangan soal AKM dapat dilihat pada diagram berikut.

Pengantar Desain Pengembangan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM)


Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) merupakan penilaian kemampuan minimum yang

dilakukan kepada peserta didik. Kemampuan minimum yang dimaksud adalah

kemampuan paling dasar yang harus dimiliki oleh peserta didik pada jenjang tertentu.

Kemampuan dasar tersebut dalam hal ini meliputi literasi membaca dan numerasi.

Kemampuan ini sesuai dengan kecakapan abad ke-21 yang menuntut peserta didik untuk

dapat mengikuti perkembangan zaman yang penuh dengan tantangan. 

Dengan menguasai kecakapan abad ke-21, peserta didik akan memiliki keterampilan belajar

dan berinovasi, keterampilan menggunakan dan memanfaatkan teknologi/media

informasi, serta dapat bekerja dan bertahan dengan menggunakan kecakapan hidup

(life skill).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Pusat Asesmen dan Pembelajaran,

memiliki peranan penting untuk mewujudkan hal tersebut sehingga diperlukan adanya

desain pengembangan soal AKM. 

Desain pengembangan ini sebagai kerangka sekaligus acuan untuk implementasinya. Desain 

pengembangan soal AKM disusun untuk membantu sekaligus memberi inspirasi kepada para pendidik 

dan sekolah dalam mengembangkan soal-soal yang dapat menuntut peserta didik memiliki kemampuan

berpikir abad ke-21.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam

penyusunan desain pengembangan soal AKM ini.

Jakarta, 24 April 2020

Kepala Pusat Asesmen dan Pembelajaran

Bagaimana Implikasi AKM dalam Pembelajaran, Simak Selengkapnya

Komponen Instrumen AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) Berupa Literasi Numerik dan Literasi Membaca

Untuk memastikan AKM mengukur kompetensi yang diperlukan dalam

kehidupan, juga sesuai dengan pengertian Literasi Membaca dan

Numerasi yang telah disampaikan terdahulu, soal AKM diharapkan

tidak hanya mengukur topik atau konten tertentu tetapi berbagai

konten, berbagai konteks dan pada beberapa tingkat proses kognitif.

Konten pada Literasi Membaca menunjukkan jenis teks yang

digunakan, dalam hal ini dibedakan dalam dua kelompok yaitu teks

informasi dan teks fiksi. Pada Numerasi konten dibedakan menjadi

empat kelompok, yaitu Bilangan, Pengukuran dan Geometri, Data dan

Ketidakpastian, serta Aljabar.

Tingkat kognitif menunjukkan proses berpikir yang dituntut atau

diperlukan untuk dapat menyelesaikan masalah atau soal. 

Proses kognitif pada Literasi Membaca dan Numerasi dibedakan menjadi

tiga level. Pada Literasi Membaca, level tersebut adalah menemukan

informasi, interpretasi dan integrasi serta evaluasi dan refleksi. 

Pada Numerasi, ketiga level tersebut adalah pemahaman, penerapan, dan


Konteks menunjukkan aspek kehidupan atau situasi untuk konten

yang digunakan. 

Konteks pada AKM dibedakan menjadi tiga, yaitu

personal, sosial budaya, dan saintifik. Penjelasan lebih detil mengenai

komponen AKM disajikan di Tabel 1.

Tujuan AKM (Asesmen Kompetensi MInimum), Simak Apa Saja.

Dalam pembelajaran terdapat tiga komponen penting, yaitu kurikulum

(apa yang diharapkan akan dicapai), pembelajaran (bagaimana

mencapai) dan asesmen (apa yang sudah dicapai). 

Asesmen dilakukan untuk mendapatkan informasi mengetahui capaian murid terhadap

kompetensi yang diharapkan. Asesmen Kompetensi Minimum

dirancang untuk menghasilkan informasi yang memicu perbaikan

kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya dapat meningkatkan

hasil belajar murid.

Pelaporan hasil AKM dirancang untuk memberikan informasi mengenai

tingkat kompetensi murid. Tingkat kompetensi tersebut dapat

dimanfaatkan guru berbagai mata pelajaran untuk menyusun strategi

pembelajaran yang efektif dan berkualitas sesuai dengan tingkat

capaian murid. 

Dengan demikian “Teaching at the right level” dapat

diterapkan. Pembelajaran yang dirancang dengan memperhatikan

tingkat capaian murid akan memudahkan murid menguasai konten

atau kompetensi yang diharapkan pada suatu mata pelajaran.

Tujuan AKM (Asesmen Kompetensi MInimum)

Mengenal Lebih Dekat Tentang AKM (Asesmen Kompetensi Minimum)

Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) merupakan penilaian

kompetensi mendasar yang diperlukan oleh semua murid untuk

mampu mengembangkan kapasitas diri dan berpartisipasi positif pada


Terdapat dua kompetensi mendasar yang diukur AKM,

yaitu literasi membaca dan literasi matematika (numerasi). 

Baik pada literasi membaca maupun numerasi, kompetensi yang dinilai mencakup

keterampilan berpikir logis-sistematis, keterampilan bernalar

menggunakan konsep dan pengetahuan yang telah dipelajari, serta

keterampilan memilah serta mengolah informasi. AKM menyajikan

masalah-masalah dengan beragam konteks yang diharapkan mampu

diselesaikan oleh murid menggunakan kompetensi literasi membaca

dan numerasi yang dimilikinya. AKM dimaksudkan untuk mengukur

kompetensi secara mendalam, tidak sekedar penguasaan konten.

Literasi membaca didefinisikan sebagai kemampuan untuk

memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai

jenis teks tertulis untuk mengembangkan kapasitas individu sebagai

warga Indonesia dan warga dunia serta untuk dapat berkontribusi

secara produktif kepada masyarakat.

Numerasi adalah kemampuan berpikir menggunakan konsep,

prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah

sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu

sebagai warga Indonesia dan warga dunia.

Pengantar Pengenalan AKM (Asesmen Kompetensi Minimum), Silakan Dibaca Lebih Detail

 Asesmen Nasional merupakan upaya untuk memotret secara

komprehensif mutu proses dan hasil belajar satuan pendidikan dasar

dan menengah di seluruh Indonesia. Informasi yang diperoleh dari

asesmen nasional diharapkan digunakan untuk memperbaiki kualitas

proses pembelajaran di satuan pendidikan, yang pada gilirannya

dapat meningkatkan mutu hasil belajar murid.

Salah satu komponen hasil belajar murid yang diukur pada asesmen

nasional adalah literasi membaca serta literasi matematika (numerasi).

Asesmen ini disebut sebagai Asesmen Kompetensi Minimum (AKM)

karena mengukur kompetensi mendasar atau minimum yang

diperlukan individu untuk dapat hidup secara produktif di masyarakat.

Berbeda dengan asesmen berbasis mata pelajaran yang memotret

hasil belajar murid pada mata pelajaran tertentu, AKM memotret

kompetensi mendasar yang diperlukan untuk sukses pada berbagai

mata pelajaran.

Buku saku ini disusun untuk memberikan informasi dan wawasan

mengenai soal-soal AKM serta implikasinya dalam pembelajaran

lintas mata pelajaran. Penjelasan mengenai tingkat kompetensi dari

hasil AKM juga diharapkan memantik beragam strategi pembelajaran

yang disesuaikan dengan kemampuan murid: “teaching at the

right level”. Kami berharap buku saku ini menjadi inspirasi untuk

terbentuknya kultur belajar yang memposisikan murid sebagai fokus

utama, menggeser paradigma dari mengajarkan materi menjadi

menumbuhkan kompetensi secara konstruktif dan adaptif.

Pusat Asesmen dan Pembelajaran, Badan Penelitian dan

Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan

Kebudayaan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang

telah berkontribusi dalam penyiapan dan penyusunan buku saku

ini. Semoga buku saku dapat bermanfaat terutama bagi kelanjutan

dunia pendidikan di Indonesia dalam upaya mencerdaskan kehidupan


Jakarta, September 2020

Kepala Pusat Asesmen dan Pembelajaran

Asrijanty, Ph.D

Download SK Penetapan Peserta KSN SMP Tingkat Nasional Tahun 2020

Download Seleksi Guru Penggerak dan Calon Pengajar Praktik Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 2, 3, dan 4 Tahun 2021

Dalam rangka menindaklanjuti peluncuran kebijakan Merdeka Belajar Episode Kelima: Guru Penggerak, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2020 telah melaksanakan Pendidikan Guru Penggerak (PGP) untuk angkatan 1 dengan jumlah sasaran 2.800 orang dari 56 kabupaten/kota untuk jenjang TK, SD, SMP, dan SMA. Selanjutnya, pada tahun 2021 akan dimulai rekrutmen dan pendaftaran untuk angkatan berikutnya.

Berkenaan dengan pelaksanaan PGP tahun 2021 tersebut, dengan hormat kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut.

1. Pelaksanaan PGP pada tahun 2021 dibagi dalam 3 angkatan, yaitu angkatan 2, 3, dan 4 dengan jumlah sasaran 13.600 orang calon Guru Penggerak dan 2.788 orang calon Pengajar Praktik Guru Penggerak (jumlah sasaran per angkatan sebagaimana terlampir).

2. Kabupaten/kota yang akan diundang untuk PGP tahun 2021 sejumlah 290 kabupaten/kota pada 33 provinsi. Kabupaten/kota yang belum teralokasikan pada tahun 2020 dan 2021 akan diundang pada rekrutmen PGP tahun 2022.

3. Calon Peserta dan Pengajar Praktik PGP akan mengikuti proses rekrutmen melalui 2 tahapan seleksi sebagaimana informasi terlampir.

4. Informasi proses rekrutmen calon Peserta dan calon Pengajar Praktik PGP dapat dilihat pada laman https://sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id/gurupenggerak. Selanjutnya kami mohon Saudara bersama dengan Tim PGP Tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk menyampaikan informasi ini kepada para guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, dan insan pendidikan terbaik di wilayah Saudara untuk mengikuti proses rekrutmen dan seleksi calon Peserta dan calon Pengajar Praktik Pendidikan Guru Penggerak. Apabila ada pertanyaan lebih lanjut, dapat menghubungi kami melalui email guru.penggerak@kemdikbud.go.id.

Atas perhatian dan kerjasama Saudara, kami sampaikan terima kasih.

Evaluasi Harian Soal Cerita Tentang Himpunan, Siapkan Coretan (Kelas 7 SMP)

Hasil Perolehan Medali KSN Matematika Jenjang SMA/MA/K Tingkat Nasional Tahun 2020

Page Actions are Temporarily Disabled in Google Search Console, What is It ?

Today, when I opened the search console, I got a warning. Page actions are temporarily disabled.


I was worried too, because this was the first time I got that. However, it turns out that this is one of Google's policies in technical terms.


In essence, there is no need to worry.


At most 1 week, the warning will be lifted immediately.


However, every country is very likely to be different when you get the warning above.

Page actions are temporarily disabled

The "Request Indexing" feature of the URL Inspection Tool has been disabled in order to make some technical updates. We expect it to be re-enabled in the coming weeks. In the meanwhile, Google continues to find and index content through our regular methods, as covered here

Google Webmasters official Twitter handle Twitted the below,

We have disabled the "Request Indexing" feature of the URL Inspection Tool, in order to make some infrastructure changes. We expect it will return in the coming weeks. We continue to find & index content through our regular methods, as covered here https://twitter.com/googlewmc/status/1316463867296395268

Menyelesaikan Soal Cerita tentang Himpunan Kelas 7 Kurikulum 2013 (Kelas 7 SMP)

Ingin tahu bagaimana contoh soal dan pembahasan tentang himpunan? Ikuti berikut ini.

Pertama, Bentuk Menentukan Banyak Siswa Seluruhnya

Dalam sebuah kelas  terdapat 15 siswa suka sepakbola dan 13 siswa suka voli. Jika terdapat 8 siswa suka keduanya dan ada 2 siswa yang tidak suka keduanya, maka banyak siswa dalam kelas tersebut adalah ....

Jawab :

Misalkan B = banyak siswa yang suka sepakbola

V = banyak siswa yang suka voli

Langkah pertama isikan banyak siswa yang suka keduanya di tengah, yaitu 8 siswa.

Selanjutnya, tuliskan banyak siswa tidak suka keduanya ada 2.

Banyak siswa yang hanya suka sepakbola = 15 – 8 = 7

Banyak siswa yang hanya suka voli = 13 – 8 = 5

Gambar dalam diagram venn

Menyelesaikan soal cerita tentang himpunan


Dari gambar di atas, didapatkan banyak siswa seluruhnya adalah = 7 + 8 + 5 + 2 = 22 siswa.


Kedua, Menentukan Banyak Siswa Yang Tidak Suka Keduanya

Dalam sebuah kelas  terdapat 17 siswa makan roti dan 23 siswa makan bakso. Jumlah siswa dalam kelas tersebut adalah 32 siswa dan ada 9 siswa yang makan keduanya, maka banyak siswa yang tidak makan keduanya adalah ....

Jawab :

Misalkan R = banyak siswa yang makan roti

B = banyak siswa yang makan bakso

Langkah pertama isikan banyak siswa yang makan keduanya di tengah, yaitu 9 siswa.

Banyak siswa yang hanya makan roti = 17 – 9 = 8

Banyak siswa yang hanya makan bakso = 23 – 9 = 14

Gambar dalam diagram venn






Untuk mencari x dicari dengan

32 = 8 + 9 + 14 + x

32 = 31 + x , dengan demikian x = 1

Ketiga, Menentukan Banyak Siswa yang Suka Salah Satu

Dalam sebuah kelas  terdapat 15 siswa suka mie ayam dan terdapat 3 siswa yang tidak suka mie ayam dan cilok. Jumlah siswa dalam kelas tersebut adalah 30 siswa dan ada 7 siswa yang suka keduanya, maka banyak siswa yang suka cilok adalah ....

Jawab :

Misalkan M = banyak siswa yang suka mie ayam

C = banyak siswa yang suka cilok

Langkah pertama isikan banyak siswa yang suka keduanya di tengah, yaitu 7 siswa. Isikan banyak siswa yang tidak suka makan keduanya ada 3.

Banyak siswa yang hanya suka mie ayam = 15 – 7 = 8

Gambar dalam diagram venn

Tundung Memolo Himpunan Soal Cerita tentang Himpunan





Untuk mencari x dicari dengan

30 = 8 + 7 + x + 3

30 = 18 + x, dengan demikian x = 12

Jadi, banyak siswa yang suka cilok ada 7 + x = 7 + 12 = 19.

Keempat, Menentukan Banyak Siswa yang Suka Keduanya

Survey study tour diberikan kepada 40 siswa. Terdapat 23 siswa yang memilih ke Jakarta, sedangan 25 siswa memilih ke Bandung. Namun ada 5 siswa yang tidak memilih keduanya. Berapa siswa yang memilih study tour ke Jakarta dan Bandung?

Jawab :

Misalkan J = banyak siswa yang memilih ke Jakarta

B = banyak siswa yang memilih ke Bandung

Langkah pertama isikan dengan banyak siswa yang tidak memilih keduanya, yaitu 5 siswa. Selanjutnya cobalah dengan mencoba – coba, mencari keduanya.

Gambar dalam diagram venn

Menyelesaikan Soal Cerita Tentang Himpunan





Terlihat jumlah siswa seluruhnya sudah sesuai soal yaitu 10 + 13 + 12 + 5 = 40 siswa.

Jadi, banyak siswa yang memilih keduanya adalah 13 siswa.



Kelima, Menentukan Banyak Siswa yang Hanya Suka Salah Satu

Saat belanja, terdapat 15 siswa membeli mainan dan 13 siswa membeli buku. Jika jumlah seluruh siswa ada 25 siswa dengan 3 siswa yang tidak membeli keduanya, maka banyak siswa yang hanya membeli buku adalah ....

Jawab :

Misalkan M = banyak siswa yang membeli mainan

B = banyak siswa yang membeli buku

Langkah pertama isikan dengan banyak siswa yang tidak memilih keduanya, yaitu 3 siswa. Selanjutnya cobalah dengan mencoba – coba, mencari keduanya.

Perhatikan bahwa banyak siswa yang membeli buku tidak sama dengan banyak siswa yang hanya membeli buku.

Gambar dalam diagram venn

Himpunan Matematika Diagram Venn





Terlihat jumlah siswa seluruhnya sudah sesuai soal yaitu 9 + 6 + 7 + 3 = 25 siswa.

Jadi, banyak siswa yang hanya membeli buku adalah 13 – 6 = 7 siswa.