Cegah Corona

Stay at Home, Pakai Masker, Jaga Jarak, Cuci Tangan Selalu

My Blog List

Himpunan Kosong, Bagaimana Notasi, Contoh, dan Penjelasannya.

Sebelum belajar tentang himpunan kosong, terlebih dahulu pahami berikut.

Elemen (anggota) himpunan merupakan objek dalam himpunan.  

 

Notasi: Simbol digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu elemen adalah anggota himpunan dan digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu objek bukan anggota himpunan.

 

Contoh 1

Untuk himpunan A = {1, 2, 3}, 1 A, tapi 12 A.

 

Contoh 2

Untuk S = {x: x adalah warna lampu pada rambu lalu lintas}, maka merah S, tetapi biru S.

 

 Himpunan kosong adalah himpunan yang tidak memiliki anggota.

 

Notasi himpunan kosong adalah digunakan untuk mewakili himpunan kosong atau boleh { }.

 

Contoh:

        = Himpuan nama hari yang dimulai dengan huruf P

        = { }

        = {x: x adalah bilangan asli kurang dari 1}

 

 

 

Catatan: {} tidak melambangkan himpunan kosong;

Itu mewakili himpunan yang berisi himpunan kosong sebagai elemen dan karenanya memiliki jumlah anggotanya satu yaitu himpunan kosong.

 

Jadi penulisan himpunan kosong hanya  atau { }

 

Himpunan yang sama (kesamaan suatu himpunan)

HImpunan yang sama adalah dua himpunan yang memiliki elemen (anggota) yang persis sama.

 

Contoh: {a, c, t} = {c, a, t} = {t, a, c}, tetapi {a, c, t} ≠ {a, c, t, o, r}.

 

Contoh: {x: x adalah huruf pada kata “buku”} = {b, u, k}, tapi {k, u, b} ≠ {b, o, t}.

 

Saat kita membentuk himpunan tanpa elemen, kita tidak lagi memiliki apa-apa. Kita memiliki satu himpunan tanpa apa pun di dalamnya. Ada nama khusus untuk himpunan yang tidak mengandung elemen. Ini disebut himpunan kosong.

 

Misalnya, kita akan melihat {5}, yang merupakan himpunan yang berisi elemen 5. Himpunan {5} bukanlah angka. Ini adalah himpunan dengan angka 5 sebagai elemen, sedangkan 5 adalah angka.

 

Dengan cara yang sama, himpunan kosong bukanlah apa-apa. Sebaliknya, ini adalah himpunan tanpa elemen. Ini membantu untuk memikirkan himpunan sebagai wadah, dan elemennya adalah hal-hal yang kita taruh di dalamnya. Kotak kosong yang tidak ada isinya tetap merupakan kotak.

 

Keunikan Himpunan Kosong

 

Ada banyak sekali himpunan dengan satu elemen di dalamnya. Himpunan {a}, {1}, {b} dan {376} masing-masing memiliki satu elemen, dan karenanya setara satu sama lain. Karena unsur-unsur itu sendiri berbeda satu sama lain, himpunannya tidak sama.

 

 

Irisan himpunan manapun dengan himpunan kosong adalah himpunan kosong.

Hal ini karena tidak ada elemen dalam himpunan kosong, sehingga kedua himpunan tidak memiliki kesamaan. Dalam simbol, kita menulis A = .

Contoh :

A = {1,2,3,4,5}

Maka A =

Gabungan setiap himpunan dengan himpunan kosong adalah himpunan tersebut. Hal ini karena tidak ada elemen (anggota) di himpunan kosong, jadi kita tidak menambahkan elemen apa pun ke himpunan tersebut saat kita membentuk gabungan. Dalam simbol, kita tulis X U = X.

Soal Tes CPNS Kemampuan Dasar Bagian Tes Numerik, Silakan Coba

Soal Olimpiade Matematika SD Tingkat Provinsi Tahun 2019, Terbaru

Irisan dan Gabungan Himpunan, Evaluasi Harian, Tinggal Klik (Kelas 7 SMP)

Understand the Importance of Writing for Students with Readable Writing

Author : Tundung Memolo

In a lesson, writing is an activity that cannot be separated from reading or speaking. After a person has read, he must be faced with writing activities, either simply summarizing, doing practice questions, and telling stories in written form.

 

However, it is unfortunate that many teachers still think that writing is not an important activity. This means that when a student is able to solve a problem by speaking or issuing his idea, it is considered complete.

 

In fact, there are other aspects that have not been touched, namely writing.

 

It could be that a student is good at telling stories, but it turns out that when he is asked to write it down, he is not able to. Not being able to here can be interpreted that the writing is so bad.

 

Even though it is not enough, when students rely solely on speaking, without being balanced with writing. Conversely, good writing must also be balanced with speaking skills.

 

Therefore, writing activities cannot be separated from speaking activities.

 

Realizing the importance of writing in writing that can be read by the eye, the teacher should familiarize students with writing.

 

For example, after learning students are asked to rewrite it. After reading, students were asked to summarize.

 

Even if students already understand the material, students are still asked to write it down. Because this is related to writing habit.

 

Don't let the students' writing be unreadable.

 

The illegible writing in this chapter has the following meanings:

v Students writing are always late compared to other students of their age, even if their writing is good

v Student writing is bad and illegible

 

Writing in the learning process is very important, even as important as the importance of learning.

 

Because writing is likened to an arrow or net that will be used to catch prey. For example, if we are about to hunt deer in the forest, suddenly the deer is in front of us, if we don't catch the deer with arrows or nets, then how can we get the deer?

 

A good teacher should pay attention to student writing problems. For example, when we have written on the blackboard, don't let the student just see and read our writing, without him wanting to copy it in his notebook.

 

Not only that, we should also ask students to organize the writing in a special notebook if we provide unique, relatively extraordinary, or complex questions and answers.

 

Because for complex questions without neat and well-organized writing, it is impossible for students to remember how to answer the questions we give.

 

Do not also let students write on sheets of paper whose edges will be lost in the fire.

 

If we estimate that when the problem is complicated and requires a long answer then if students copying takes a relatively long time, then we should have typed it or written by hand and then we distributed it to students. This can save time in class lessons.

 

If we find that the student is lazy to take notes, takes too long to take notes, or writes badly, then we try to make an improvement. The trick is to give homework notes to students by knowing their parents. We need to give an understanding of the importance of taking notes.

 

Then we take the problem to the parents, to pay special attention to taking notes. We continue to give note-taking exercises until the child is fluent in taking notes, good writing, and is not lazy in taking notes.

 

It should be noted that fast and good writing really helps students' learning success in school.

Pola Bilangan, Soal Penilaian Harian Beserta Pembahasannya (Kelas 8 SMP)

 


Pembahasan Soal Penilaian Harian Pola Bilangan

Pilihlah a,b,c, atau d sebagai jawaban yang benar !

1. Lanjutan dari pola 20, 35, 50, 65, ... adalah ....

A. 85 B. 80 C. 75 D. 70 

Jawab :

Tiap bilangan naik bertambah 15, maka bilangan selanjutnya adalah 80. 

Kunci B


2. Pola : 2, 5, 9, 14, 20, 27, ....Lanjutannya adalah ....

A. 33 B. 34 C. 35 D. 36 

Jawab :

Bilangan bertambah dari 2 ke 5 adalah 3

Dari 5 ke 9 adalah 4

Dari 9 ke 14 adalah 5

Dari 14 ke 20 adalah 6

Dari 20 ke 27 adalah 7

Selanjutnya bertambah 8 dari 27 sehingga 27 + 8 = 35.

Kunci C


3. Pola : 6, 9, 4, 7, 2, 5, 0, 3, -2, .....Lanjutan 2 bilangan berikutnya adalah ....

A. 1,-4 B. 0,-5 C. -1,-6 D. 0,-4

Jawab :

Ada 2 pola di situ 

6,4,2,0,-2, .... (berkurang 2) sehingga bilangan berikutnya -4

9,7,5,3, ... (berkurang 2) sehingga bilangan berikutnya 1

Kunci A


4. Lanjutan dari pola 2, 6, 18, 54, .... adalah ....

A. 160 B. 162 C. 164 D. 166

Jawab :

Pola dikalikan 3.

Bilangan selanjutnya 54 x 3 = 162

Kunci B


5. Misalkan a+b+c =90. Jika a,b, dan c merupakan tiga bilangan genap berurutan, maka nilai b adalah ....

A. 28 B. 30 C. 32 D. 34

Jawab :

Karena berurutan, maka nilai b = 90/3 = 30.

Sehingga bilangan yang dimaksud 28 + 30 + 32 = 90.

Nilai b = 30

Kunci B


6. Budi menulis pola berikut : 5, 11, 23, 47, ...

Rendi melihat pola tersebut bahwa suku kedua adalah dua kali suku pertama ditambah satu, suku ketiga adalah dua kali suku kedua ditambah satu, dan seterusnya. 

Dengan meneruskan pola barisan di atas, jawaban Rendi adalah ....

A. 93 B. 94 C. 95 D. 96

Jawab :

Suku ke-5 adalah dua kali suku ke-4 ditambah 1

Suku ke – 5 = 2 x 47 + 1 = 95

Kunci : C


7. Andi menuliskan sebuah pola 

Pola ke-1 = 2 x 3

Pola ke-2 = 3 x 4

Pola ke-3 = 4 x 5 

Pola ke-4 = 5 x 6 

Dan seterusnya.

Jika dilanjutkan, maka pola ke-50 adalah ....

A. 50 x 51 B. 51 x 52 C. 52 x 53 D. 53 x 54

Jawab :

Pola ke -50 = 51 x 52

Kunci : A


8. Pola huruf : A,B,C,D,E,A,B,C,D,E,A,B, ....Pola huruf ke -80 adalah ....

A. A B. B C. C D. E

Jawab :

Berulang tiap 5 kali, sehingga 80/5 = 16 sisa 0.

Karena sisa 0 (tidak bersisa) maka huruf ke-80 adalah huruf E.


9. Sisa pembagian dari 210 dibagi 3 adalah ....

A. 4 B. 3 C. 2 D. 1

Jawab :

21 dibagi 3 hasilnya 0 sisa 2  

22 dibagi 3 hasilnya 1 sisa 1

23 dibagi 3 hasilnya 2 sisa 2

24 dibagi 3 hasilnya 5 sisa 1

Dst

Karena sisa hanya 1 atau 2, maka dilihat pangkatnya.

Saat 2 pangkat ganjil didapatkan sisa 2.

Saat 2 pangkat genap didapatkan sisa 1.

Sehingga 210 dibagi 3 didapatkan sisa 1.

Kunci : D


10. Pada pola segitiga : 1, 3, 6, 10, 15, 21, 28, ....Maka pola bilangan ke-50 adalah ....

A. 1.275 B. 1.300 C. 2.550 D. 2.600

Jawab :

Pola segitiga

Pola ke-1 adalah 1 = (1 x 2)/2 

Pola ke-2 adalah 3 = (2x3)/2 

Pola ke-3 adalah 6 = (3x4)/2

Pola ke-4 adalah 10=(4x5)/2

Pola ke-5 adalah 15=(5x6)/2

......

Pola ke-50 adalah (50 x 51)/2 = 1.275

Kunci A 


11. Pola barisan Fibonacci : 0,1,1,2,3,5,8,13,21, ....Dua bilangan berikutnya adalah ....

A. 34, 54 B. 33, 56 C. 34, 56 D. 34, 55

Jawab :

Pola penjumlahan 2 bilangan sebelumnya

0 + 1 = 1

1 + 1 = 2

1 + 2 = 3

2 + 3 = 5

3 + 5 = 8

5 + 8 = 13

8 + 13 = 21

13 + 21 = 34

21 + 34 = 55

Dua bilangan berikutnya adalah 34 dan 55

Kunci : D 


12. Pada pola : 1,4,9,16,25,36,49, ....Maka bilangan ke-99 adalah ....

A. 9.750 B. 9.780 C. 9.800 D. 9.801

Jawab :

Pola persegi

Pola ke – 1 = 12 = 1

Pola ke -2 = 22 = 4

Pola ke-3 = 32 = 9

Pola ke-4 = 42 = 16

Pola ke-5 = 52 = 25

....

Pola ke-99 = 992 = 9.801

Kunci: D


13. Pada pola kubik: 1,8, 27, 64, 125, ...Bilangan selanjutnya adalah ....

A. 126 B. 216 C. 343 D. 456

Jawab :

Pola kubik

Pola ke-1 =  13 = 1

Pola ke-2 = 23 = 8

Pola ke-3 = 33 = 27

Pola ke-4 = 43 = 64

Pola ke-5 = 53 = 125

Pola selanjutnya = 63 = 216

Kunci : B


14. Banyak kursi baris depan pada gedung pertunjukkan 15 buah. Banyak kursi pada baris di belakangnya selalu lebih 4 dari kursi pada baris di depannya. Jika dalam gedung ada 20 baris kursi, maka banyak kursi pada baris ke-20  adalah….

A. 59 B. 81 C. 91 D. 95

Jawab :

U1 = 15

Selisih 4

U20 = U1 + selisih x banyak baris = 15 + 4 x 20 

= 15 + 80 = 95

Kunci : D

15. Perhatikan gambar!



Pola bangun terbuat dari susunan lidi yang sama panjang. Banyak lidi yang dibutuhkan untuk membuat pola ke-9 adalah …. 

A. 18             B. 21                   C. 24          D. 28

Jawab :

Pola 1 = 4  ..........................3 x 1 + 1

Pola 2 = 7 ...........................3 x 2 + 1

Pola 3 = 10 ........................ 3 x 3 + 1

.....

Bertambah 3 bentuknya 3n+1

terus hingga pola 9

Jadi pola 9 = 3 x 9 + 1 = 27 + 1 = 28

Kunci : D 

16. Perhatikan gambar berpola di bawah ini !

 ( 1 )                 ( 2 )                   ( 3 )

      Banyak persegi pada pola ke-8 adalah ….

A. 21                 B. 25                  C. 27                  D. 29

Jawab :

Pola (1) = 1 .....................4 x 1 - 3

Pola (2) = 5 .................... 4 x 2 - 3

Pola (3) = 9 .....................4 x 3 - 3

.....

Pola bertambah 4 , maka bentuknya 4n-3

Pola (8) = 4 x 8 – 3 = 32 – 3 = 29

Kunci : D


17. Rumus suku ke-n suatu barisan bilangan  Un = 2x3n. Empat suku pertama adalah ....

A. 6, 8, 9, 10 C. 6, 12, 18, 24

B. 6, 10, 12, 14 D. 6, 18, 54, 162 

Jawab :

Un = 2x3n

U1 = 2x31= 2 x 3 = 6

U2 = 2x32= 2 x 9 = 18

U3 = 2x33= 2 x 27 = 54

U4 = 2x34= 2 x 81 = 162


Kunci : D


18. Seekor amoeba membelah diri setelah 20 menit menjadi dua dari sebelumnya. Banyak amoeba setelah 3 jam adalah ....

A. 512                  B. 256            C. 125            D. 64

Jawab :

Mula – mula = 1

Menit ke-20 = 2

Menit ke-40 = 4

Menit ke-60 = 8

Menit ke-80 = 16

Menit ke-100 = 32

Menit ke-120 = 64

Menit ke-140 = 128

Menit ke-160 = 256

Menit ke-180 = 512 (3 jam)

Kunci : A


19. Barisan bilangan 30, 42, 56, 72, 90, .... Suku ke 14 adalah ....

      A. 272          B. 306             C. 342             D. 380

      Jawab :

      Suku ke-1 = 5 x 6

      Suku ke-2 = 6 x 7

      Suku ke-3 = 7 x 8

      Suku ke-4 = 8 x 9

      Dst

      Suku ke-14 = 18 x 19 = 342

      Kunci : C


20. Tinggi tumpukan 2 gelas yang sejenis adalah 15 cm, sedangkan tinggi tumpukan 5 gelas yang sejenis adalah 24 cm.Tinggi tumpukan 20 gelas tersebut adalah

      A.  60 cm    B. 66 cm   C. 69 cm      D. 72 cm

     Jawab :

     Tumpukan 2 gelas = 15

     Tumpukan 5 gelas = 24

     U2 = 15

     U5 = 24

     Selisih tumpukan 3 gelas = 24 – 15 = 9

     Jadi selisih tumpukan 1 gelas = 9/3 = 3 cm

     Maka 1 gelas tingginya 

     = tumpukan 2 gelas – selisih tumpukan 1 gelas 

     = 15-3=12 cm

    Tinggi tumpukan 20 gelas 

    = Tinggi 1 gelas + selisih tumpukan 19 gelas 

    = 12 + 3x19 = 12 + 57 = 69 cm

    Kunci : C

Operasi Irisan dan Gabungan Pada Himpunan, Belajar Cara Mudahnya (Kelas 7 SMP)

Operasi Irisan dan Gabungan Pada Himpunan

 

Irisan

Irisan dua himpunan adalah himpunan baru yang berisi semua elemen (anggota) yang ada di kedua himpunan. Irisan tersebut ditulis sebagai A∩B atau “A dan B”.

 

Gabungan (union)

Gabungan dua himpunan adalah himpunan baru yang berisi semua elemen yang setidaknya ada di salah satu dari dua himpunan. Gabungan ditulis sebagai AB atau "A atau B".

 

Contoh 1

A = { 1,2,3,4,5,6 }

B = {3,4,5,6,7,8,9}

Maka A∩B adalah ....

Jawab :

 ∩ artinya irisan. Kalian cari yang anggotanya ada di A sekaligus di B.

Yaitu 3 ada di A dan B

4 ada di A dan B

5 ada di A dan B

6 ada di A dan B

Dengan demikian A∩B = {3,4,5,6}

 

Contoh 2

A = { 0,2,3,4,6,8 }

B = {3,4,5,6,7,8,9}

Maka AB adalah ....

Jawab :

Kalian tulis semua anggotanya baik di A ataupun di B. Misalkan anggota 0 ada di himpunan A meskipun tidak ada di B, maka tetap kalian tuliskan. Termasuk anggota 9 tetap dituliskan sekalipun hanya ada di B. Inilah yang namanya gabungan ditulis .

Jadi, AB = {0,2,3,4,5,6,7,8,9}

 

Contoh 3

P adalah himpunan bilangan prima kurang dari 10, sedangkan Q adalah bilangan ganjil kurang dari 10, maka P Q adalah ....

Jawab :

P = {2,3,5,7}

Q = {1,3,5,7,9}

P Q = {1,2,3,5,7,9}

 

Contoh 4

P = { x | x < 12, x bilangan genap positif }

Q = { x | 1 < x < 10 , x bilangan ganjil }

Tentukan P ∩ Q = ....

Jawab :

Sebelumnya, kalian daftar dulu anggotanya

P = { 2, 4, 6, 8, 10 }

Q = {3, 5, 7, 9}

Apakah ada anggota yang ada di kedua himpunan? Ternyata tidak ada anggota yang ada di P sekaligus di Q.

Oleh karena itu irisan P dan Q adalah himpunan kosong.

Ditulis P ∩ Q = {  }

 

Contoh 5

A = { x | 1 < x ­< 9, x bilangan ganjil }

B = { x | x < 10, x bilangan asli }

Maka AB adalah ....

Jawab :

Terlebih dahulu daftar anggotanya

A = { 3, 5, 7, 9 }

B = ( 1,2,3, ..., 9}

artinya kalian daftar semua anggotanya yang ada di kedua himpunan.

AB = { 1,2,3,4,5,6,7,8,9}

Ternyata AB = { 1,2,3,4,5,6,7,8,9} = B

 

Contoh 6

A = {  }

B = { 2,3,5,7}

Maka hasil dari AB dan A ∩ B adalah ....

Jawab :

AB = { 2,3,5,7} = B

A ∩ B = {  } karena tidak ada anggota yang sama.

 

Contoh 7

A adalah himpunan bilangan asli kurang dari 5

Sedangkan B adalah himpunan bilangan bulat lebih dari 0 tetapi kurang dari 5.

Maka hasil dari AB dan A ∩ B adalah ....

Jawab :

Terlebih dahulu daftar anggotanya

A = { 1,2,3,4 }
B = { x | 0 < x < 5, x
bilangan bulat } = { 1,2,3,4}

Maka AB = { 1,2,3,4 } karena sudah ditulis semua anggotanya

A ∩ B = { 1,2,3,4 } karena anggotanya ada di kedua himpunan

 

Demikian penjelasan soal tentang irisan dan himpunan.

Bagaimana Cara Mengalokasikan Waktu Memberikan Les

Mengatur waktu les bukanlah hal yang mudah. Terlebih jika kalian memiliki waktu yang relatif sibuk. Memang ada yang menjadikan memberikan les sebagai sampingan, sehingga dia bisa mengatur waktunya dengan leluasa.

 

Misalnya, dia mengatur jadwal sehari sekali.

 

Bagi yang menjadikan pemberian les sebagai pekerjaan utama, maka membagi waktu les seringkali ada kesulitan tersendiri. Karena ketika kita sudah menjadwal dengan baik, ternyata yang diberi les, waktunya tidak bisa.

 

Sebelum itu, ada waktu yang sebaiknya dihindari oleh kalian dalam memberikan les, yaitu sabtu sore hingga minggu waktu sore.

 

Sabtu sore berkisar pada pukul 15.30 dan hari minggu hingga pukul 15.30.

Mengapa? Karena waktu – waktu tersebut (selama 1 hari), maka biarlah gunakan waktu tersebut oleh siswa untuk beristirahat. Ingat, siswa akan kurang maksimal ketika mengambil waktu tersebut.

 

Mungkin siswa ada agenda liburan keluarga ataupun punya waktu main yang akan mereka gunakan. Oleh karena sehari tersebut waktunya digunakan untuk refreshing, maka waktu les siswa akan terlihat kurang fokus.

 

Akibatnya, pembelajaran les tidak maksimal.

 

Jika tidak maksimal, tentu saja pembelajaran les tidak berhasil. Memang waktu itu juga siswa cenderung tidak memilih.

 

Jika dipaksakan kalian mengambil waktu tersebut, maka bisa jadi waktu – waktu belajar di sekolah akan menjadi korban. Alias siswa akan bosan mengikuti pembelajaran di sekolah, karena waktu refreshing mereka sudah dipangkas oleh jadwal les yang kalian buat pada waktu tersebut.

 

Oleh karena itu, kalian harus bijak mengambil waktu les yang tepat, agar hasilnya efisien dan efektif.

 

Tidak masalah setiap les kalian mengambil waktunya, yang penting jangan di waktu itu yaitu hari sabtu sore hingga minggu sore.

 

Dalam beberapa kejadian les, saya seringkali menjumpai waktu les hingga 2 jam. Jika tidak bosan, maka sangat bagus. Karena pembelajaran akan efektif.

 

Namun, tidak semua siswa akan betah les hingga 2 jam. Bahkan waktu 1 jam siswa sudah tidak fokus. Ya itu memang dikembalikan kepada siswa yang bersangkutan.

 

Prinsip inti mengatur jadwal les adalah menyesuaikan waktu siswa. Sebisa mungkin setelah kita memberikan waktu alternatif, lalu biarkan siswa memilih waktu mana yang ia bisa.

 

Prinsip lainnya adalah alokasi waktu. Bahwa semakin tinggi jenjangnya maka akan semakin lama durasinya. Karena ini juga terkait dengan ketahanan fisik duduk lama di tempat les, serta kedalaman materi yang diberikan.

 

Hal ini sebagaimana pada jam pelajaran sekolah ada perbedaan 1 jam pelajaran dari SD hingga perguruan tinggi.

 

Meski demikian ada standar waktu les yang akan saya jelaskan di bawah ini.

 

Di pasaran les, kita menjumpai waktu les berkisar antara 1 jam hingga 2 jam, amat sangat sedikit waktu les sekali pertemuan untuk 1 mapel hingga lebih dari 2 jam, karena siswa akan capai dan bosan. Kebanyakan waktu les adalah 1,5 jam baru disusul 1 jam.

 

Namun saya peribadi menyukai les waktunya adalah 75 menit. Dengan les 75 menit, sebenarnya efektif hanya 1 jam, yang 15 menit bisa digunakan untuk mempersiapkan kondisi siswa les, memberi motivasi, dan persiapan menuju les selanjutnya.

 

Jika waktu les 1 jam saja, kita akan cenderung terburu – buru di jalan dan adakalanya siswa pun belum siap les jadi hasil kurang maksimal. Waktu 2 jam pun sebenarnya terlalu boros dan berharga buat pengajar les.

 

Jika les dalam waktu 2 jam, maka sehari kita hanya akan mendapatkan alokasi waktu les sehari hanya 2 kali atau kadang sekali saja.

 

Berikut ini saya jadwalkan waktunya les, dengan catatan alokasi waktu ini tidak harus di atur seperti ini :

v                           Jadwal pertama jam 15.30 – 16.15

v                          Jadwal kedua jam 16.15 – 18.00

Ingat bahwa pilih jadwal pertama dan kedua selisih tempat tidak jauh

v                        Jadwal ketiga jam 18.30 – 20.00 (dengan perkiraan solat isya’ di masjid 15 menit)

Semoga bermanfaat.

10 Kesabaran Menghadapi Siswa Les, Apa Saja ?

Oleh : Tundung Memolo

Sabar di sini dapat diartikan menahan diri dari keluh kesah. Sabar menghadapi siswa les dapat diartikan sabar menghadapi gangguang atau sesuatu yang tidak menyenangkan yang kita dapatkan dari siswa les. Gangguan atau ketidak menyenangkan ini beragam kadarnya dan bentuknya. Dalam prakteknya ternyata banyak sekali hal – hal yang membutuhkan kita untuk bersabar.

Berikut ini beberapa contoh perilaku siswa yang membutuhkan kesabaran, diantaranya :

Kemampuan akademik kurang

 

Tidak setiap siswa yang kita les memiliki kemampuan akademik tinggi atau sedang. Justru malah banyak kita jumpai, siswa les yang memiliki kemampuan akademik rendah.

 

Ini logis lantaran dipilihnya les privat karena si anak tidak bisa mengikuti pelajaran yang kelasnya besar. Oleh karenanya dengan anggapan bahwa si anak akan dapat mengikuti pelajaran dengan baik bila di les privatkan.

 

Suatu kenyataan yang saya alami, saya pernah mendapat siswa A yang lemah sekali dalam perhitungan. Terus datang lagi mendaftar siswa B, yang ternyata kemampuan di B lebih parah dari si A. Saya menganggap waktu itu tidak akan ada yang lebih parah dari si B.

 

Seiring berjalannya waktu, si C mendaftar les, ternyata kemapuan sangat parah dan lebih parah disbanding dengan si B. begitu seterusnya, hingga kita akan mendapatkan ujian berupa siswa yang kemampuannya amat sangat sangat terbatas.

               

Terbatasnya kemampuan siswa – siswa tersebut dapat kita ketahui dengan kemampuan menangkap materi pelajaran yang terbatas. Mudah lupa, malas mengerjakan soal, dan seabrek perkara – perkara lain yang membuat kita harus berhati luas.

 

Berhadapan dengan siswa A, B, C, D, atau E tentunya menjadikan kita lebih sabar. Adanya siswa – siswa tersebut, menjadikan kita lebih belajar lagi meningkatkan dari sisi metode mengajar les. Mau tidak mau demikian yang harus kita lakukan.

 

Kita jangan pernah bermimpi untuk memberikan siswa les dengan kemampuan sedang atau tinggi, karena umumnya mereka enggan les privat, seandainya mereka les, mereka akan les di bimbel. Jadi itulah tantangan manakala kita mendapatkann siswa yang kemampuannya kurang.

Belum siap ketika datang

 

Si A sudah janjian sebelumnya dengan kita untuk les jam 16.00, begitu kita sampai di rumahnya si A tidak ada di rumah. Ibunya meminta kita untuk menunggu. Jadwal les si B jam 16.30, ketika kita sudah sampai di rumahnya, si B lagi baru saja tidur dan ibunya kesulitan membangunkan. Begitu sampai di rumah C untuk les, ternyata si C lupa jadwalnya, dan belum mandi atau makan.

 

Terpaksa kita menunggu si C untuk makan atau mandi. Di rumah si D, saat kita datang untuk ngeles, ternyata si D lagi main layang – layang di lapangan. Orangtuanya sibuk mencari si D, selama 20 menit kita menunggu si D untuk mandi dan siap les.

 

Ini adalah sekadar cuplikan ketidaksiapan siswa untuk mengikuti les. Maklum rasanya jika itu terjadi hanya sesekali, tapi bagaimana jika itu terjadi berulang kali.

 

Baiklah jika nasehat itu kita berikan terus kepada masing – masing anak untuk siap les, tapi bagaimana perasaan Anda tatkala mereka lakukan secara berulang. Jika les Anda hanya 1 jam 15 menit  misalnya, kemudian siswa Anda harus ditunggu untuk siap les selama 30 menit, maka waktu tersisa hanyalah 45 menit.

 

Pertanyaan yang muncul, apakah Anda tetap memberikan les hanya waktu 45 menit ataukah tetap 75 menit ?

 

Jikalau kita tidak sabar menghadapi siswa dengan kelakuan seperti itu, maka yang terjadi adalah salah satu diantara kita, pasti akan menghentikan les. Jika les dihentikan berarti kita tidak sabar, dan ruginya kita akan kehilangan siswa les.

 

Tidak mengerjakan tugas

 

Adakalanya kita memberikan tugas/PR kepada siswa, dengan tujuan agar siswa mau mengulang materi yang kita berikan dan mau latihan. Namun sejauh ini, masih terasa sulit bilamana tugas itu terselesaikan oleh siswa.

 

Puluhan alasan akan diberikan oleh siswa les, seperti banyak tugas sekolah, tidak sempat, lupa, dan lain –lain. Sejatinya mereka malas, lha wong seandainya dia ada tugas dari sekolah, dia menginginkan kita yang mengerjakan, kok malah kita ngasih tugas …yang benar saja ! Begitulah realitanya.

 

Yang menjadi persoalan di sini adalah bukanlah pada siswa les yang sudah kompeten, namun pada siswa yang kita pandang perlu dan penting untuk diberikan tugas tersebut dari sisi manfaat. Kadang kita memberikan tugas untuk membaca materi prasyarat.

 

Terus terang, hati kita akan sedih manakalah sekali dua kali tiga kali siswa tidak mengerjakan tugas, tapi tetaplah bersabar.

 

Oleh karenanya di akhir pertemuan les, kita tanya untuk buat komitmen bersama, apakah perlu diberikan tugas atau tidak ? Jika siswa menjawab perlu, kita tanya lagi apakah siap mengerjakan. Jika siswa sanggup, maka kita berikan, jika tidak maka janganlah kita siapkan.

 

Terkadang jawaban alasan siswa tidak mengerjakan les, karena banyak tugas sekolah, hal ini pada sebagian kecil siswa les betul adanya, tapi umumnya tidak.

 

Bermain HP saat les

 

Siswa les yang menggunakan HP saat les ada beberapa kondisi, diantaranya pengalihan kejenuhan, lagi asyik – asyiknya sms, menjawab sms, untuk menghitung, dll. Akan tetapi, jadi bermasalah bila dia keseringan menjawab sms alias asyik sms.

 

Bila penggunaan HP hanya pengalihan dari kejenuhan, tidaklah mengapa. Jadi tidak masalah kita membiarkan sesekali siswa menjawab sms atau menghitung memakai HP, akan lebih baik, sejak awal les kita sampaikan kepadanya untuk mematikan HP saat les. Ini sangat bermanfaat buat siswa dalam hal konsentrasi.

 

Bila kita sendiri harus ber sms saat les maka sampaikan alasan yang tepat, misalnya Pak Guru saat les ber sms karena menjawab pertanyaan, atau mengatur jadwal les selanjutnya, dan urusan – urusan yang lain. Karena terkadang saat les, kita tidak bisa mengerjakan soal les karena sulit, kita bisa saat itu sms teman untuk membantu menjawab.

 

Lha yang seperti ini, kita sms maksudnya, sejak awal kita sampaikan kepada siswa dengan harapan siswa les jangan ikut – ikutan.

 

Bila siswa tidak mempedulikan komitmen awal untuk tidak mengaktifkan HP maka kita bersabar dan terus menyampaikan ke siswa dengan teguran yang ringan. Karena kalau ini dibiarkan, les akan terganggu. Jika terganggu akibatnya les kurang bermanfaat.

 

Bercanda dan mengobrol dengan temannya

 

Jika les siswa lebih dari 1, kelemahannya adalah siswa ngobrol pada perkara – perkara yang tidak ada hubungan dengan les, misalnya ngobrol masalah teman, curhat keluarga, dll. Ini jelas tidak bermanfaat, kecuali kalau dilakukan di luar les karena pengefektifan waktu les. Sesekali itu boleh ngobrol, akan tetapi bila keseringan, tentu berdampak tidak baik.

 

Kelemahan ngobrol inilah yang menjadikan banyak siswa yang pindah memilih les privat. Kita bisa melihat siswa di kelas bimbel, saat KBM berlangsung, siswa terlihat kurang memperhatikan karena keasyikan ngobrol.

 

Begitu jatuh nilainya, mereka beralih ke les privat. Jika di les privat mereka tetap mengobrol akibatnya akan mencari guru les lain.

 

Kadang ini menjadi logika terbalik. Ilustrasinya seperti ini, siswa A tidak mau les di bimbel karena di sana ia ketemu teman – temannya dan ngobrol akibatnya nilainya jatuh, padahal dia sendiri yang pengin ngobrol dengan temannya, karena kalau tidak ngobrol, maka tidak asyik.

 

Kemudian pindah di les privat agar tidak ngobrol, begitu di les privat, ia pengin ada temannya, agar ia bisa melanjutkan obrolannya, dan kenyataannya demikian, ia suka kalau ngobrol. Meskipun ia memandang untuk mencari les yang tidak ada obrolannya.

 

Oleh karenanya, jika siswa masih ngobrol, maka tetap kita tegur dan sabar jika hal itu terulang lagi di kemudian hari.

 

Sering ijin tidak les

 

Beberapa contoh sms yang menunjukkan ijin tidak les sebagai berikut :

v  “Maaf, Pak. Hari ini lesnya libur dulu.”

v  “mv ya Pak, saya lagi banyak tugas jadi les libur.”

v  “pak saya ijin karena di sini hujan”

v  “pak, saya tidak bisa les karena baru sakit.”

v  “mf, pak. Saya baru belajar kelompok di rumah teman, lesnya minggu depan lagi saja.”

v  “mf, pak. Saya lagi ada luar kota, belum pulang”

v  “mf, pak, saya baru ke rumah eyang. Ijin dulu”

v  Dan lain – lain

 

Jika diambil penyebab ketidakhadiran les sebagai berikut :

v  Sakit

v  Menyelesaikan tugas

v  Belajar  kelompok

v  Bepergian

 

Alasan – alasan di atas dapat dimaklumi jika kondisinya sesekali. Namun, jika ijinnya keseringan, maka pertanyaan selanjutnya adalah, ‘Ada Apa’, . Menurut pengamatan saya yang terbatas, jika siswa ijin les (maksudnya ijin tidak les ) 3 kali berturut – turut berarti ada kecenderungan untuk pengin pindah les alias tidak betah les dengan kita.

 

Salah satu antisipasinya, jika siswa sudah ijin les kali kedua, maka segera temui siswa les tersebut untuk konfirmasi, sehingga terdapat kejelasan. Bilamana alasanya tepat, maka tidak menjadi masalah.

 

Jika ijin tidak les itu diberikan via sms/telp pada jam – jam sebelum les, tidaklah mengapa. Minimalnya 1 jam sebelum les, sehingga jika siswa ijin les pada jam tersebut, dapat kita tawarkan kepada siswa lain untuk mengganti.

 

Namun, bila yang terjadi, dia sms pada waktu 15 menit sebelum jadwal les, maka ini membutuhkan kesabaran kita. Yang lebih parah, saat kita sudah berjalan dari rumah ke rumahnya selama 30 menit, tiba – tiba pas mau sampai rumahnya, ibunya ijin tidak les. Jika kondisinya demikian, maka ya kita sabar.

 

Catatan tidak punya alias sering ganti – ganti buku

 

Sedih rasanya bila melihat siswa sering ganti – ganti lembaran catatan atau ganti – ganti buku, seakan – akan ilmu yang kita sampaikan terbuang begitu saja.

 

Bila kita ingin membuktikan bahwa kita sudah menyampaikan materi tersebut dan ingin kita ingatkan kembali, maka akan sulit mencari file – file tadi. Ya sabar juga jadinya.

 

Siswa yang sering ganti – ganti buku catatan, ini menunjukkan siswa les tersebut tidak belajar dari catatan – catatan les yang kita berikan.

 

Padahal, menurut kita, catatan itu penting untuk selalu diingat. Terlebih lagi jika siswa mencampur dengan catatan pelajaran di sekolah, atau catatan pelajaran mapel lain.

 

Oleh karenanya di awal les, hendaknya guru les mengingatkan hal ini. Mengingatkan sejak awal pentingnya mencatat di buku khusus les. Jika tidak kita sampaikan, maka siswa tidak akan tahu.

 

Malas mencatat

 

Pak Guru sedang mengerjakan soal – soal yang sulit di papan tulis, di belakang si A hanya menatap tanpa menulis, begitu di suruh menulis si A hanya menulis sepenggal – penggal. Kalau si B, dia tidak mencatat dengan alasan sudah paham, padahal belum tentu.

 

Si C menulis dengan sangat lambat sedangkan si D menulis yang penting – penting saja. Ketika mengalami kondisi – kondisi di atas tentu kesabaran kita diuji. Bisa siih kita marah saat itu, tapi akibat kemarahan itu, siswa akan pergi meninggalkan kita.

 

Lalu apakah hal di atas kita biarkan ? Jika kita biarkan, maka jangan bersedih manakala di kemudian hari siswa tidak bisa mengerjakan soal serupa dengan alasan lupa.

 

Konsentrasi kurang

 

Pandangan siswa kelihatan tidak fokus, sering melihat jam, ditanya tidak segera menjawab, atau diam. Indikasi – indikasi di atas, sebagai pendekatan untuk mengenal tingkat konsentrasi yang kurang.

 

Konsentrasi yang kurang saat les dapat terjadi manakala : siswa lagi menahan sakit, jenuh terhadap materi yang kita berikan, les terlalu lama, gelisah, lagi banyak kegiatan yang akan dilakukan, atau ada masalah dengan teman atau keluarga.

 

Jika permasalahan penyebab kurang konsentrasi ada pada kita, maka hendaknya kita segera refleksi dengan meminta masukan siswa. Jika permasalahan terjadi pada siswa, maka pancing siswa untuk mengemukakan dan kita berikan solusinya.

 

Akan tetapi jika hal itu sulit diungkap, maka kita meminta dengan sangat kepada siswa, agar saat les pikiran harus fokus,  dan hal – hal lain agar ditinggalkan sejenak.

 

Oleh karenanya guru les harus cermat, manakala siswa di pertemuan sekarang tidak seperti pada pertemuan yang telah lalu, gejolak hati siswa tersebut perlu segera dipecahkan.

 

Terlambat membayar

 

Tidak selamanya siswa tertib membayar. Jika les privat hanya 1 siswa maka kecenderungan membayar akan tertib, akan tetapi jika les lebih 1, maka biasanya akan ada siswa yang terlambat, alasan pun beragam bisa karena lupa atau pada saat itu orangtua tidak punya uang.

 

Antisipasinya adalah jika sudah lewat 3 kali pertemuan, sebaiknya les siswa ditunda dulu, sampai siswa tersebut membayar. Hal ini lebih baik, tentu saja kita mengatakan dengan bijak.

 

Sebenarnya banyak sekali contoh – contoh yang dapat kita berikan, karena keterbatasan waktu dan tempat, maka kita cukupkan 10 hal tersebut. Kesepuluh hal tadi, insya Allah, akan kita jumpai dalam prakteknya, bahkan bisa jadi kesepuluh hal tadi dimiliki oleh 1 siswa. Kalau terjadi demikian, maka seakan kita mendapat telur busuk.